Selasa, 12 Juli 2011

FREE DOWNLOAD BUKU PELAJARAN DEPDIKNAS E-BOOK “BUKU GRATIS SD, SMP, SMU” VERSI KOMPRESI

Posting kali ini, saya memberikan link untuk mengundu buku-buku pelajaran dari InVirCom.Silakan click link dibawah untuk Download E-Book dari Hompage Invir. Selain anda dapat mendownload E-book anda juga bisa mendapatkan informasi tentang Scaner Periksa Nilai Untuk membantu Sekolah dalam mempercepat pemeriksaan hasil Test yang menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK) dan Test Online Client/Server adalah program untuk melakukan Test atau Ujian dengan menggunakan komputer yang terhubung dalam suatu jaringan (network). Program ini menggunakan sistem Client/Server. Program Server digunakan untuk mengelola pendaftaran murid, memilih soal yang akan diujikan, memantau jalannya test, dan mencetak hasil nilai test. Salam persahabatan dari saya kamal misran dullah. thnk’s
Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
KELAS 1

   
Ilmu Pengetahuan Alam
Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
Pengarang: S. Rositawaty, Aris Muharam
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 281
Download (7,420 MB)
  Bahasa Indonesia
Bahasa Kita Bahasa Indonesia
Pengarang: Muhamad Jaruki
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 247
Download (10,475 MB)

 
Matematika
Matematika 1
Pengarang: Purnomosidi – Wiyanto – Endang
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 139
Download (11,168 MB)


KELAS 2
Bahasa Indonesia
Aku Bangga Bahasa Indonesia
Pengarang: Ismoyo
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (6,831 MB)

 
Bahasa Indonesia
Cinta Berbahasa Indonesia
Pengarang: Try Noviaty
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (2,708 MB)

 
Ilmu Pengetahuan Alam
Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
Pengarang: S. Rositawaty, Aris Muharam
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 188
Download (6,058 MB)

 
Matematika
Matematika 2
Pengarang: Purnomosidi – Wiyanto – Endang
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 127
Download (4,988 MB)

KELAS 3

 
Bahasa Indonesia
Aku Bangga Bahasa Indonesia
Pengarang: Ismoyo
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah hal : 105
Download (11,116 MB)

 
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia 3
Pengarang: Mei Sulistyaningsih
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah hal : 79
Download (0,719 MB)

 
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas
Pengarang: Edi Warsidi dan Farika
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah hal : 147
Download (4,743 MB)

 
Ilmu Pengetahuan Alam
Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
Pengarang: S. Rositawaty, Aris Muharam
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 172
Download (5,752 MB)

KELAS 4

 
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas
Pengarang: Edi Warsidi dan Farika
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah hal : 123
Download (4,556 MB)

 
Ilmu Pengetahuan Alam
Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
Pengarang: S. Rositawaty, Aris Muharam
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 212
Download (6,724 MB)

KELAS 5

 
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia 5
Pengarang: Sri Murni
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah hal : 148
Download (0,719 MB)

 
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas
Pengarang: Edi Warsidi dan Farika
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah hal : 115
Download (4,743 MB)

 
Ilmu Pengetahuan Alam
Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
Pengarang: S. Rositawaty, Aris Muharam
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 166
Download (5,752 MB) (Bab 3 tidak ada)

 
Matematika
Matematika 5
Pengarang: R.J. Soenarjo
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 292
Download (4,988 MB)

KELAS 6

 
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas
Pengarang: Edi Warsidi dan Farika
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah hal : 122
Download (2,972 MB)

 
Ilmu Pengetahuan Alam
Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
Pengarang: S. Rositawaty, Aris Muharam
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 194
Download (6,891 MB)

 
Matematika
Bersahabat dengan Matematika
Pengarang: A. Dadi Permana
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 154
Download (6,738 MB)

Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
KELAS 7

 
Bahasa Indonesia
Bahasa dan Sastra Indonesia 1
Pengarang: Dwi Harningsih, Bambang Wisnu dan Septi Lestari
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (1,773 MB)

 
Bahasa Indonesia
Bahasa dan Sastra Indonesia 1
Pengarang: Maryati dan Sutopo
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (4,958 MB)

 
Bahasa Indonesia
Kompetensi Berbahasa Indonesia
Pengarang: Nia Kurniati Sapari
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (0,986 MB)
Bahasa Indonesia
Aktif Berbahasa Indonesia
Pengarang: Dewi Indrawati, Didik Durianto
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 100
Download (5,405 MB)

KELAS 8

 
Bahasa Indonesia
Bahasa dan Sastra Indonesia 2
Pengarang: Maryati dan Sutopo
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (1,071 MB)

 
Matematika
Mudah Belajar Matematika kelas VIII
Pengarang: Nuniek Avianti Agus
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 251
Download (7,740 MB)

 
Bahasa Indonesia
Bahasa dan Sastra Indonesia
Pengarang: Dwi Hariningsih, Bambang Wisnu, Septi Lestari
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 135
Download (1,692 MB)

 
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia Bahasa Kebanggaanku
Pengarang: Sarwiji Suwandi Sutarmo
Penerbit: Pusat Perbukuan
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 286
Download (3,574 MB)

KELAS 9

 
Matematika
Matematika
Pengarang: Ichwan dan Masduki
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008Download (….. MB) (belum berhasil konversi, format beda)

 
Bahasa Indonesia
Bahasa dan Sastra Indonesia 3
Pengarang: Maryati dan Sutopo
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (1,411 MB)

 
Bahasa Indonesia
Membuka Jendela Ilmu Pengetahuan
Bahasa dan Sastra Indonesia

Pengarang: Dwi Hariningsih, Bambang Wisnu, Septi Lestari
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 160
Download (1,448 MB)

 
Matematika
Mudah Belajar Matematika kelas IX
Pengarang: Nuniek Avianti Agus
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 147
Download (2,613 MB)

 
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia Bahasa Kebanggaanku
Pengarang: Sarwiji Suwandi Sutarmo
Penerbit: Pusat Perbukuan
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 200
Download (1,915 MB)

Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah
KELAS 10

 
Bahasa Indonesia
Aktif dan Kreatif Bahasa Indonesia
Pengarang: Adi Abdul Somad, Aminudin Yudi Irawan
Penerbit: Pusat Perbukuan
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 258
Download (8,114 MB)

KELAS 11

 
Bahasa Indonesia
Aku Bangga Bahasa Indonesia
Pengarang: Ismoyo
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (10,236 MB)

KELAS 12

 
Bahasa Indonesia
Aktif & Kreatif Berbahasa Indonesia
Pengarang: Yudi Irawan, Adi Abdul Somad dan Aminudin
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (5,282 MB)

 
Matematika
Matematika 3
Pengarang: Geri Achmadi, Dwi Gustanti, Dani Wildan Hakim, Wil
Penerbit: Pusat Perbukuan
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 115
Download (2,579 MB)

Sekolah Menengah Kejuruan
KELAS 10

 
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia SMK Kelas X
Pengarang: Mokhamad Irman, Tri Wahyu Prastowo dan Nurdin
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download ( 2,587 MB)

 
Matematika
Matematika AkutansiPengarang: To’ali
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (2,444 MB)

 
Matematika
Matematika Kelompok Seni, Pariwisata, dan Teknologi Kerumahtagaan
Pengarang: Hendi Senja Gumilar
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (1,402 MB)

KELAS 11

 
Bahasa Indonesia
Berbahasa Indonesia
Pengarang: Mokhamad Irman, Tri Wahyu Prastowo dan Nurdin
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (1,155 MB)

 
Matematika
Matimatika SMKPengarang: To’ali
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (2,030 MB)

KELAS 12

 
Bahasa Indonesia
Berbahasa Indonesia
Pengarang: Mokhamad Irman, Tri Wahyu Prastowo dan Nurdin
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Download (1,862 MB)

 
Matematika
Kelompok Penjualan dan Akutansi
Pengarang: To’ali
Penerbit: Pusat Perbukuan Diknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 216
Download (1,996 MB)

 
Bahasa Indonesia
Komunikatif Dalam Berbahasa Indonesia
Pengarang: Nani Darmayanti
Penerbit: Pusat Perbukuan Depdiknas
Tahun: 2008
Jumlah Hal: 130
Download (2,040 MB)

sumber http://bse.invir.com/


Software gratis pembuat TTS

Mengisi TTS (Teka-Teki Silang/Crossword) kadang memang menyenangkan, selain juga bisa bermanfaat sebagai media pembelajaran mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Jika dulu membuat TTS masih manual dan cukup lama agar penyusunan katanya tepat, maka dengan kemajuan teknologi, saat ini membuat TTS terasa begitu mudah dan menyenangkan.
Salah satunya dengan aplikasi EclipseCrossword, yang merupakan software pembuat TTS (Crossword) dan bisa diperoleh (download) secara gratis. Meskipun gratis, fasilitas yang diberikan cukup banyak, baik bagi kita yang dirumah sampai bagi para pemilik website/blog.

Untuk membuat TTS, tinggal mengikuti langkah-langkah yang ditunjukkan. Kita tinggal mengisikan daftar kata-kata (Word) yang akan tampil dan Pertanyaan untuk kata tersebut (Clue). Setelah selesai, maka hasilnya dapat di cetak, atau di tampilkan di web kita secara interaktif, sehingga user bisa langsung mencoba dan mengisi TTS yang kita buat.
Fasilitas yang disertakan EclipseCrossword adalah:
  • Menyimpan dan membuka kembali project yang telah dibuat
  • Mencetak (print) hasilnya dengan berbagai opsi
  • Menyimpan sebagai halaman web, baik interaktif (user bisa langsung mengisi) atau tidak
  • Menerbitkan hasilnya dalam format RTF, Windows Meta File (WMF), Postscript (EPS) atau dalam format text untuk di export ke software lainnya
Untuk mencoba langsung, saya telah membuat TTS sederhana tentang Hardware (perangkat keras) komputer dengan software ini dan langsung bisa dicoba DISINI(silahkan dibuka atau disimpan yang bisa langsung dijalankan di rumah, tanpa online )
Download
Alamat Website : http://www.eclipsecrossword.com/
Agar lebih mudah, lebih baik download file installernya langsung dari link berikut :
http://www.eclipsecrossword.com/download/Install%20EclipseCrossword.msi (513 KB)

di sadur dari : www.ebsoft.web.id


TTS Komputer



Soal
Mendatar
2. Dalam bahasa pemrograman disebut List atau Vektor
4. Spam, Virus, Trojan
6. Software Animasi
7. OS keluarga UNIX
8. Salah satu ukuran sudut
10. Portable Document format
11. Global System for Mobile Communication
14. Bahasa yang dikembangkan oleh Netscape
15. Digunakan untuk menyimpan alamat website yang sering dikunjungi
16. Request untuk menampilkan informasi yang disortir dari database
18. Kata kunci atau kata Sandi
20. Digunakan untuk menyimpan data
Menurun
1. Kartu Grafis
2. Lawan dari digital
3. Read Only Memory
5. Asymetric Digital Subcriber Line
6. Lawan dari download
7. Pengawalan atau permulaan
9. Salah satu tipe data dalam pemrograman
12. Tombol disisi paling kanan keyboard standar
13. Bar yang berisi tombol
15. Merk komputer terkenal
17. Unshielded Twisted Pair
19. Proses Identifikasi dan otenfikasi pengguna sistem komputer


Tutorial Poling



MEMBIMBING SISWA “NAKAL”

“Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada konseli untuk mengenal diri dan lingkungannya dan merencanakan masa depan”
Muara dari pelayanan bimbingan dan konseling adalah tercapainya siswa yang mandiri baik mandiri secara fisik dan mandiri secara psikologis, sehingga konseli memperoleh kesejahteraan.
Profesionalisasi konselor sangat dibutuhkan dalam pemberian layanan kepada konseli. Dalam hal ini konselor sekolah benar-benar harus memahami konteks tugas dan ekspektasi kinerja Konselor. Juga yang tidak boleh dilupakan adalah pemahaman konselor tentang standar kompetensi konselor dan standar kemandirian peserta didik.
Dalam artikel ini, kita tidak akan membahas lebih jauh tentang Bimbingan Konseling secara teoritis, tetapi penulis berusaha belajar merefleksi salah satu penanganan masalah siswa yang dikategorikan “anak nakal”.
“Siapakah anak nakal?”
Sebenarnya kita mempunyai keragaman tentang cara memandang “anak nakal”. Anak yang tidak mengerjakan tugas-tugas guru(*PR), anak yang tidak patuh kepada perintah guru atau orang tua, anak yang suka tawuran, anak yang lebih suka di tempat-tempat keramaian (mall, terminal dsb), anak yang suka membolos dan sejenisnya adalah ciri-ciri anak nakal?
Selanjutnya pandangan kita tentang pribadi anak nakal pun berbeda-beda. Ada guru yang melihat siswanya mencukur rambutnya dengan model tertentu karena meniru tokoh idolanya di TV, sehingga kelihatan norak. Guru tersebut memandang itu adalah perilaku preman yang harus dibasmi, sehingga tak segan-segan guru menghukum siswa tersebut dengan hukuman yang berat. Ada juga yang acuh terhadap perilaku siswanya di sekolah. Setiap beliau ditanya, jawabnya adalah “ah… itu kan biasa untuk anak muda!”, Nah, manakah diantara dua tanggapan ini yang dianggap paling tepat?
Bagaimana Guru harus berperan
Menghadapi siswa yang nakal/bermasalah, sebenarnya semua elemen di sekolah harus ikut berperan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing. Namun yang perlu ditekankan disini adalah peranan wali kelas, Kesiswaan, Konselor sekolah dan Guru serta peran Kepala Sekolah sebagai Supervisor, sangat menentukan tuntas atau tidaknya masalah siswa.
Banyak sekolah yang sudah tepat dalam menangani contoh masalah seperti ini, yaitu dengan mengintensifkan peranan wali kelas yang selalu koordinasi dengan Konselor Sekolah dan Kepala Sekolah dengan memperhatikan masukan-masukan dari Kesiswaan dan para Guru, tetapi ada sekolah-sekolah yang masih menggunakan paradigma lama, yaitu menyerahkan siswa yang nakal kepada guru BK. Sehingga guru BK/ Konselor sekolah mempunya peranan ganda, yaitu sebaga Polisi Sekolah ( petugas ketertiban) dan sebagai pembimbing siswa.
“Apa yang harus dilakukan Konselor Sekolah?”
Menolak siswa bermasalah (nakal), bukanlah pilihan guru BK (konselor Sekolah) yang bijak. Malah kalau Konselor Sekolah menolak itu berarti menolak tugas dan tanggungjawab.
Besar dan Kecil
Rata-rata orang dewasa/ tua, menganggap remaja(siswa) adalah sosok yang sudah besar yang harus mandiri, disiplin, patuh dan seabrek tuntutan lainnya layaknya orang yang sudah dewasa. Tetapi sering dalam perlakuan sehari-hari dianggap seperti anak kecil yang harus selalu diarahkan dalam beraktifitas dan dalam segala hal. Kemudian kaitannya dengan masalah, dianggapnya masalah anak remaja itu sesuatu yang tidak terlalu serius (kecil) dibandingkan dengan masalah orang dewasa, sedangkan kalau remaja membuat pelanggaran, dianggapnya sesuatu yang sangat besar dan harus diberikan hukuman yang berat.
Remaja, adalah masa pertumbuhan menuju masa dewasa awal, dengan berbagai kendala fisik dan psikologis yang menyertainya. Pertumbuhan tubuh yang kurang proposional, perasaan ingin dihargai, ingin dicintai dan sebagainya kadang kala dan sering menjadi hambatan dalam pergaulan sosialnya.
Pemberian konseling sangat efektif dalam mengentaskan berbagai permasalahan pada diri siswa (remaja).


MEMAHAMI GAYA BELAJAR SISWA

Lain ladang, lain ikannya. Lain orang, lain pula gaya belajarnya. Pepatah di atas memang pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tak semua orang punya gaya belajar yang sama. Pun bila mereka bersekolah di sekolah atau bahkan duduk di kelas yang sama.
Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang dan ada pula yang sangat lambat. Karenanya, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama.
Sebagian siswa lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis. Dengan begitu mereka bisa membaca untuk kemudian mencoba memahaminya. Tapi, sebagian siswa lain lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menyampaikannya secara lisan dan mereka mendengarkan untuk bisa memahaminya. Sementara itu, ada siswa yang lebih suka membentuk kelompok kecil untuk mendiskusikan pertanyaan yang menyangkut pelajaran tersebut.
Cara lain yang juga kerap disukai banyak siswa adalah model belajar yang menempatkan guru tak ubahnya seorang penceramah. Guru diharapkan bercerita panjang lebar tentang beragam teori dengan segudang ilustrasinya, sementara para siswa mendengarkan sambil menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya mereka pahami sendiri.
Apa pun cara yang dipilih, perbedaaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagia setiap individu bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Karenanya, jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika, misalnya, kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.
Tentu saja, sebelum kita sendiri mengajarkannya pada orang lain, langkah terbaik adalah mengenali gaya belajar kita sendiri. Pertimbangan ini yang seringkali kita lupakan. Dengan kata lain, kita sendiri harus merasakan pengalaman mendapatkan gaya belajar yang tepat bagi diri sendiri, sebelum menularkannya pada orang lain. Ada banyak alasan dan keuntungan yang bisa kita dapatkan bila kita mampu memahami ragam gaya belajar, termasuk gaya kita sendiri.
Kalangan tua, biasanya menyerap banyak pengetahuan tentang gaya belajar, berdasarkan pengalaman yang telah mereka lewati. Misalnya, mereka pernah bekerja, menjalani latihan militer, mendidik dan membimbing anak, dan sebagainya. Rangkaian pengalaman yang mereka lewati itu, sesungguhnya, adalah bagian dari cara mereka mendapatkan pelajaran berarti yang mungkin bisa kita serap untuk melihat seperti apa sebetulnya gaya belajar yang tepat bagi kita. Apa pun gaya yang akan kita pilih dan ikuti, hal terpenting yang tak boleh dilupakan: lakukan apa yang memang akan bermanfaat bagi Anda!
Ada beberapa tipe gaya belajar yang bisa kita cermati dan mungkin kita ikuti bila memang kita merasa cocok dengan gaya itu. Pertama, Gaya Belajar Visual (Visual Learners). Gaya belajar seperti ini menjelaskan bahwa kita harus melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.
Ada beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
Untuk mengatasi ragam masalah di atas, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan, sehingga belajar tetap bisa dilakukan dengan memberikan hasil yang menggembirakan. Pertama adalah menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu bisa berupa film, slide, gambar ilustrasi, coretan-coretan, kartu bergambar, catatan dan kartu-kartu gambar berseri yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan.
Gaya belajar kedua disebut Auditory Learners atau gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk belajar bila kita termasuk orang yang memiliki kesulitan-kesulitan belajar seperti di atas. Pertama adalah menggunakan tape perekam sebagai alat bantu. Alat ini digunakan untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar di depan kelas untuk kemudian didengarkan kembali. Pendekatan kedua yang bisa dilakukan adalah dengan wawancara atau terlibat dalam kelompok diskusi.
Sedang pendekatan ketiga adalah dengan mencoba membaca informasi, kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah dengan melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.
Gaya belajar lain yang juga unik adalah yang disebut Tactual Learners atau kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Tentu saja, ada beberapa karekteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya. Kedua, hanya dengan memegang kita bisa menyerap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter ketiga adalah kita termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran. Keempat, kita merasa bisa belajar lebih baik bila disertai dengan kegiatan fisik. Karakter terakhir, orang-orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability).
Untuk orang-orang yang memiliki karakteristik seperti di atas, pendekatan belajar yang mungkin bisa dilakukan adalah belajar berdasarkan atau melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model atau peraga, bekerja di laboratorium atau bermain sambil belajar. Cara lain yang juga bisa digunakan adalah secara tetap membuat jeda di tengah waktu belajar. Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter Tactual Learner juga akan lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk belajar mengucapkannya atau memahami fakta.
Penggunaan komputer bagi orang-orang yang memiliki karakter Tactual Learner akan sangat membantu. Karena, dengan komputer ia bisa terlibat aktif dalam melakukan touch, sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. Selain itu, agar belajar menjadi efektif dan berarti, orang-orang dengan karakter di atas disarankan untuk menguji memori ingatan dengan cara melihat langsung fakta di lapangan.


PROGRAM TAHUNAN DAN PROGRAM SEMESTER TAHUN 2010/2011 SMP

Bagi yang membutuhkan Program Tahunan dan Program Semester 2010/2011 khususnya pada mata pelajaran Matematika Kelas 9 SMP.
Atau bisa diedit sendiri disesuaikan dengan kebutuhan anda.
Tanpa Password ataupun kode-kode yang lain.
Pokoknya semua FREE...!!!
Bagi yang membutuhkan silahkan download di sini.
Download Program Tahunan dan Program Semester 2010/2011 SMP


TEKNIK PENGEMBANGAN SILABUS DAN RPP

Untuk lebih memahami mengenai teknik pengembangan silabus dan RPP untuk tahun 2010,
Silahkan download disini.
Download Teknik Pengembangan Silabus & RPP


FORMAT RPP TERBARU DAN ANALISIS PEMETAAN SK - KD

Contoh dari Format RPP Terbaru dan Format Analisis Pemetaan SK - KD,
dapat didownload di sini.
Download Format RPP Terbaru.Docx
Download Format RPP Terbaru.Pdf
Download Analisis Pemetaan SK - KD


MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.

Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.

Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.
Selengkapnya silahkan download di bawah ini.
Download Model-Model Pembelajaran
Download Pembelajaran Kooperatif Matematika


PERENCANAAN PENGAJARAN

Perencanaan pengajaran berarti pemikiran tentang penetrapan prinsip- prinsip umum mengajar didalam pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu interaksi pengajaran tertentu yang khusus baik yang berlangsung di dalam kelas ataupun diluar kelas.
Perencanaan pengajaran mempunyai beberapa faktor yang mendukung tujuan pembelajaran tercapai misal :
a. Persiapan sebelum mengajar
b. Situasi ruangan dan letak sekolah dari jangkauan kendaraan umum
c. Tingkat intelegensi siswa
d. Materi pelajaran yang akan disampaikan
Selengkapnya bisa didownload di bawah ini.
Download Perencanaan Pengajaran


RANCANGAN PENILAIAN HASIL BELAJAR

Silahkan download Rancangan Penilaian Hasil Belajar untuk menambah ilmu dan menyempurnakan para guru dalam menilai hasil belajar siswa-siswanya.
Download Rancangan Penilaian Hasil Belajar


PEMETAAN PENILAIAN DAN PROGRAM TAHUNAN

Dalam mulai KBM, tiap guru perlu memperkenalkan atau memberitahu keseluruhan materi yang akan dibahas pada semester ganjil dan genap dalam bentuk Kompetensi Dasar dan Indikator-indikator yang termuat di dalamnya. Hal ini untuk mendukung siswa agar lebih siap dalam menerima materi dan meningkatkan kemampuan diri dari materi yang sudah diumumkan oleh guru tiap mata pelajarannya. Siswa dapat mencari bahan pembelajaran bukan hanya dari buku pelajaran yang ada di sekolah saja, tetapi dapat juga mencari bahan-bahan di luar sekolah, misalnya di internet dan lain-lain. Di bawah ini ada format pemetaan penilaian dan program tahunan yang dapat didownload gratis. Dan setelah diisi oleh masing-masing guru mata pelajaran dapat dibagikan ke siswa-siswanya.
Download Pemetaan Penilaian
Download Program Tahunan dan Persemester


LAPORAN HASIL BELAJAR SISWA (RAPORT)

Penting untuk para guru yang selama ini merasa kesulitan dalam mengerjakan penilaian khususnya pengisian nilai raport. Yang mana aplikasi ini akan sangat mempermudah dan mempersingkat waktu para guru dalam mengerjakan nilai raport. Selain itu, aplikasi ini juga bisa mendokumentasikan hasil belajar siswa (berupa file excel).
Tersedia Tutorialnya juga...
Silahkan mendownload secara gratis disini:
Download Legger Nilai
Download Tutorial


PENILAIAN HASIL BELAJAR

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
• Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
• Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan;
• Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

Setiap satuan pendidikan selain melakukan perencanaan dan proses pembelajaran, juga melakukan penilaian hasil pembelajaran sebagai upaya terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 64
ayat (1)
dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Selanjutnya,
ayat (2)
menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk:
(a) menilai pencapaian kompetensi peserta didik;
(b) bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar; dan
(c) memperbaiki proses pembelajaran.

Dalam rangka penilaian hasil belajar (rapor) pada semester satu penilaian dapat dilakukan melalui ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan dilengkapi dengan tugas-tugas lain seperti pekerjaan rumah (PR), proyek, pengamatan dan produk.
Hasil pengolahan dan analisis nilai tersebut digunakan untuk mengisi nilai rapor semester satu. Pada semester dua penilaian dilakukan melalui ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan kenaikan kelas dan dilengkapi dengan tugas-tugas lain seperti PR, proyek, pengamatan dan produk. Hasil pengolahan dan analisis nilai tersebut digunakan untuk mengisi nilai rapor pada semester dua.


Tujuan dan Fungsi Penilaian Hasil Belajar:

1. Tujuan Penilaian Hasil Belajar
• Tujuan Umum :
1. menilai pencapaian kompetensi peserta didik;
2. memperbaiki proses pembelajaran;
3. sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan belajar siswa.
• Tujuan Khusus :
1. mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa;
2. mendiagnosis kesulitan belajar;
3. memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar;
4. penentuan kenaikan kelas;
5. memotivasi belajar siswa dengan cara mengenal dan memahami diri dan merangsang untuk melakukan usaha perbaikan.
2. Fungsi Penilaian Hasil Belajar
Fungsi penilaian hasil belajar sebagai berikut.
• Bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas.
• Umpan balik dalam perbaikan proses belajar mengajar.
• Meningkatkan motivasi belajar siswa.
• Evaluasi diri terhadap kinerja siswa.

B. Prinsip-prinsip Penilaian Hasil Belajar
Dalam melaksanakan penilaian hasil belajar, pendidik perlu memperhatikan prinsip-prinsip penilaian sebagai berikut:
1. Valid/sahih
Penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan kompetensi dasar) dan standar kompetensi lulusan. Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi.
2. Objektif
Penilaian hasil belajar peserta didik hendaknya tidak dipengaruhi oleh subyektivitas penilai, perbedaan latar belakang agama, sosial-ekonomi, budaya, bahasa, gender, dan hubungan emosional.
3. Transparan/terbuka
Penilaian hasil belajar oleh pendidik bersifat terbuka artinya prosedur penilaian, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan terhadap hasil belajar peserta didik dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.
4. Adil
Penilaian hasil belajar tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
5. Terpadu
Penilaian hasil belajar oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
6. Menyeluruh dan berkesinambungan
Penilaian hasil belajar oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
7. Bermakna
Penilaian hasil belajar oleh pendidik hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti, bermanfaat, dan dapat ditindaklanjuti oleh semua pihak, terutama guru, peserta didik, dan orangtua serta masyarakat.
8. Sistematis
Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
9. Akuntabel
Penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
10. Beracuan criteria
Penilaian hasil belajar oleh pendidik didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.


Penilaian

Skala Penilaian Guru Oleh Siswa


PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

Pendidikan Karakter Di Sekolah (Character Education in School)


Urgensi dan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah

KONSEP, URGENSI DAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH
(Oleh: Agus Prasetyo, S.Pd dan Emusti Rivasintha, S.Pd)
A. Pendahuluan
Negara Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 3 UU tersebut menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Saat ini mulai marak dibicarakan mengenai pendidikan karakter. Wacana ini muncul dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanggapai maraknya korupsi beserta perilaku negatif lain, yang menunjukkan pelakunya tidak berkarakter baik. Karakter yang dibangun pada siswa tidak semata-mata tugas guru atau sekolah. Mengingat siswa beraktivitas tidak hanya di sekolah, namun siswa juga menghabiskan waktu di rumah dan sekaligus menjadi anggota masyarakat yang merupakan bagian dari warga negara Indonesia mau pun warga dunia. Disatu sisi guru dituntut untuk mendidik siswa menjadi generasi muda yang berkarakter baik, namun disisi lain setiap hari siswa melihat contoh orang tua di rumah yang mungkin sering tidak taat pada peraturan.
Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia. Di lingkungan Kemdiknas sendiri, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. Pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan Tuhan, yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. Dalam prosesnya sendiri fitrah yang alamiah ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku. Sekolah dan masyarakat sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting, oleh karena itu setiap sekolah dan masyarakat harus memiliki pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Para pemimpin dan tokoh masyarakat juga harus mampu memberikan suri teladan mengenai karakter yang akan dibentuk tersebut.
B. Karakter dalam Persepektif Pendidikan
Secara harfiah karakter artinya “kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi ” (Hornby dan Pornwell, 1972: 49). Dalam kamus Psikologi dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang yang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relative tetap (Dali Gulo, 1982: 29). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Melalui program ini diharapkan setiap lulusan memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.
Pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah. Budaya sekolah yang dimaksud yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah.
C. Urgensi Pendidikan Karakter
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan dari SD hingga Perguruan Tinggi. Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia dapat dimaklumi, sebab selama ini dirasakan proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Banyak yang menyebut bahwa pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang pandai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak terpuji.
Pembangunan karakter perlu dilakukan oleh manusia. Senada dengan hal tersebut, Ellen G. White dalam Sarumpaet (2001: 12) mengemukakan bahwa pembangunan karakter adalah usaha paling penting yang pernah diberikan kepada manusia. Pembangunan karakter adalah tujuan luar biasa dari sistem pendidikan yang benar. Pendidikan rumah tangga maupun pendidikan dalam sekolah, orang tua dan guru tetap sadar bahwa pembangunan tabiat yang agung adalah tugas mereka. Menurut Mochtar Buchori (2007) (dalam www.tempointeraktif .com/hg/kolom/…/kol,20110201-315,id.html) pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di sekolah perlu segera dikaji dan dicari altenatif-alternatif solusinya serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan.
Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa karakter seseorang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Di antaranya berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (http://akhmadsudrajat.Wordpress .com/…/pendidikan-karakter-di-smp/), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Sementara itu Ratna Megawangi (2007) dalam bukunya Semua Berakar Pada Karakter mencontohkan bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurutnya pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good (suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga berakhlak mulia).
Character Educator yang diterbitkan oleh Character Education Partnership (http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademi-anak/) menguraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Sejalan dengan hal di atas, menurut Thomas Lickona tanpa ketiga aspek ini pendidikan karakter tidak akan efektif dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya.
Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sebuah buku berjudul Emotional Intelligence and School Success karangan Joseph Zins (2001) (dalam http://pondokibu.com/parenting /pendidikan-psikologi-anak/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademianak/) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dalam buku itu dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.
Berkaitan dengan hal di atas, Daniel Goleman (yang dikutip dalam http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademi-anak/) menerangkan bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia prasekolah dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya. Entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Apabila seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Berdasarkan hal tersebut terbukti bahwa pentingnya pendidikan karakter, baik di rumah ataupun di pendidikan formal.
D. Peran Guru dalam Pendidikan Karakter
Membangun peradaban sebuah bangsa pada hakikatnya adalah pengembangan watak dan karakter manusia unggul dari sisi intelektual, spiritual, emosional, dan fisikal yang dilandasi oleh fitrah kemanusiaan. Fitrah adalah titik tolak kemuliaan manusia, baik sebagai bawaan seseorang sejak lahir atau sebagai hasil proses pendidikan. Nelson Black dalam bukunya yang berjudul “Kapan Sebuah Bangsa Akan Mati” (dalam Alen Marlis, 2010) menyatakan bahwa nilai-nilai akhlak, kemanusiaan, kemakmuran ekonomi, dan kekuatan budaya merupakan sederet faktor keunggulan sebuah masyarakat yang humanis. Sebaliknya kebejatan sosial dan budaya merupakan faktor penyebab kemunduran sebuah peradaban. Pada Kongres Pendidikan se-Indonesia yang digelar di Yogyakarta bulan Oktober 1949, almarhum Ki Hadjar Dewantara (dalam http://alenmarlissmpn1gresik.wordpress.com/2010 /10/03/manfaat-karakteristik-pendidikan-bagi-guru-untuk-membangun-peradaban-bangsa/) dari Taman Siswa mengatakan bahwa hidup haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya dan persatuan, dan masyarakat seharusnya tidak menolak elemen-elemen yang datang dari peradaban asing. Ini adalah demi mendorong proses pertumbuhan dan pemerkayaan yang lebih lanjut bagi kehidupan nasional serta secara mutlak untuk menaikkan martabat kebanggaan bangsa Indonesia.
Terlepas dari persoalan kuantitatif maupun kwalitatif tersebut, dalam konteks pembangunan sektor pendidikan, guru merupakan pemegang peran yang amat sentral dalam proses pendidikan. Upaya meningkatkan profesionalisme para pendidik adalah suatu keniscayaan. Guru harus mendapatkan program-program pelatihan secara tersistem agar tetap memiliki profesionalisme yang tinggi dan siap melakukan adopsi inovasi. Guru juga harus mendapatkan ” Reward ” (tanda jasa), penghargaan dan kesejahteraan yang layak atas pengabdian dan jasanya, sehingga setiap inovasi dan pembaruan dalam bidang pendidikan dapat diterima dan dijalaninya dengan baik. Di sinilah kemudian karakteristik pendidikan guru memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada subjek didik. Kualitas seorang guru dapat diukur dari segi moralitas, bijaksana, sabar dan menguasai bahan pelajaran ketika beradaptasi dengan subjek didik. Sejumlah faktor itu membuat dirinya mampu menghadapi masalah-masalah sulit, tidak mudah frustasi, depresi atau stress secara positif, dan tidak destruktif.
Dalam karakter pendidikan guru penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika dan estetika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. Guru harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai Yang dimaksud serta mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Yang terpenting adalah semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti.
Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Demikian juga seorang pendidik dikatakan berkarakter, jika memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Dengan demikian pendidik yang berkarakter, berarti telah memiliki kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat kejujuran, amanah, keteladanan, ataupun sifat-sifat lain yang harus melekat pada diri pendidik. Pendidik yang berkarakter kuat tidak hanya memiliki kemampuan mengajar dalam arti sempit (transfer pengetahuan/ilmu), melainkan juga harus memiliki kemampuan mendidik dalam arti luas (keteladanan sehari-hari).
E. Mengembangkan Pendidikan Karakter di Sekolah
Pendidikan Karakter perlu dikembangkan di sekolah. Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Adapun acuan konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan sebagaimana uraian berikut.
1. Olah Hati (Spiritual and emotional development). Olah hati bermuara pada pengelolaan spiritual dan emosional.
2. Olah Pikir (intellectual development). Olah pikir bermuara pada pengelolaan intelektual.
3. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). Olah raga bermuara pada pengelolaan fisik.
4. Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Olah rasa bermuara pada pengelolaan kreativitas
Pengembangan pendidikan karakter bisa menggunakan kurikulum berkarakter atau “Kurikulum Holistik Berbasis Karakter” (Character-based Integrated Curriculum). Kurikulum ini merupakan kurikulum terpadu yang menyentuh semua aspek kebutuhan anak. Sebuah kurikulum yang terkait, tidak terkotak-kotak dan dapat merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang menarik dan kontekstual.
Bidang-bidang pengembangan yang ada di TK dan mata pelajaran yang ada di SD yang dikembangkan dalam konsep pendidikan kecakapan hidup yang terkait dengan pendidikan personal dan sosial, pengembangan berpikir/kognitif, pengembangan karakter dan pengembangan persepsi motorik juga dapat tersusun dengan baik apabila materi ajarnya dirancang melalui pembelajaran yang terpadu dan menyeluruh (Holistik). Pembelajaran holistik terjadi apabila kurikulum dapat menampilkan tema yang mendorong terjadinya eksplorasi atau kejadian-kejadian secara autentik dan alamiah. Dengan munculnya tema atau kejadian yang alami ini akan terjadi suatu proses pembelajaran yang bermakna dan materi yang dirancang akan saling terkait dengan berbagai bidang pengembangan yang ada dalam kurikulum.
Pembelajaran holistik berlandaskan pada pendekatan inquiry, dimana anak dilibatkan dalam merencanakan, bereksplorasi dan berbagi gagasan. Anak-anak didorong untuk berkolaborasi bersama teman-temannya dan belajar dengan “cara” mereka sendiri. Anak-anak diberdayakan sebagai si pembelajar dan mampu mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang dirancang. Sebuah pembelajaran yang holistik hanya dapat dilakukan dengan baik apabila pembelajaran yang akan dilakukan alami, natural, nyata, dekat dengan diri anak, dan guru-guru yang melaksanakannya memiliki pemahaman konsep pembelajaran terpadu dengan baik. Selain itu juga dibutuhkan kreativitas dan bahan-bahan atau sumber yang kaya serta pengalaman guru dalam berlatih membuat model-model yang tematis juga sangat menentukan kebermaknaan pembelajaran.
Tujuan model pendidikan holistik berbasis karakter adalah membentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual siswa secara optimal. Selain itu untuk membentuk manusia yang lifelong learners (pembelajar sejati) bisa dilakukan dengan beberapa langkah sebagaimana uraian berikut.
1) Menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid, yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh dimensi manusia terlibat secara aktif dengan diberikan materi pelajaran yang konkrit, bermakna, serta relevan dalam konteks kehidupannya (student active learning, contextual learning, inquiry-based learning, integrated learning).
2) Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif (conducive learning community) sehingga anak dapat belajar dengan efektif di dalam suasana yang memberikan rasa aman, penghargaan, tanpa ancaman, dan memberikan semangat.
3) Memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis, dan berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good, and acting the good.
4) Metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masing-masing anak, yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan juga 9 aspek kecerdasan manusia.
5) Seluruh pendekatan di atas menerapkan prinsip-prinsip.
F. Penutup
Membangun peradaban sebuah bangsa pada hakikatnya adalah pengembangan watak dan karakter manusia unggul dari sisi intelektual, spiritual, emosional, dan fisikal yang dilandasi oleh fitrah kemanusiaan. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Adian Husaini. 2010. Perlukah Pendidikan Berkarakter. Dikutip dari http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=133perlukahpendidikan-berkarakter&catid=1%3Aadian-husaini&Itemid=23. Diakses pada hari Sabtu tanggal 9 April 2011 pukul 19.20 WIB.
Alen Marlis. 2010. Manfaat Pendidikan Karakter bagi Guru Untuk Membangun Peradaban Bangsa. Dikutip dari http://alenmarlissmpn1gresik.wordpress. com/2010/10/03/manfaatkarakteristikpendidikan-bagi-guru-untuk-membangun peradabanbangsa/ diakses hari Minggu tanggal 10 April pukul 20.02 WIB.
Daniel Goleman. Dikutip dalam http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademi-anak/ diakses pada hari Minggu pukul 20.15 WIB.
Harvard University USA. Dikutip dari (http://akhmadsudrajat.wordpress. com/…/pendidikan-karakter-di-smp/) diakses pada hari Minggu pada tanggal 10 April 2011 pukul 21.35 WIB.
Joseph Zins, etc. 2001. Emotional Intelligence and School Success. Dikutip dari http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dampakpendidikan -karakterterhadap-akademi-anak/) diakses hari Minggu tanggal 10 April pukul 21. 01 WIB.
Kemendiknas. 2010. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama.  Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
M. Furqon Hidayatullah. 2010. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
Mochtar Buchori. 2007. Pendidikan Karakter dan Kepemimpinan Kita. Dikutip dari www.tempointeraktif.com/hg/kolom/…/kol,20110201-315,id.html diakses hari minggu 10 April 2011 pukul 18.50 WIB.
Ratna Megawangi. 2007. Semua Berakar Pada Karakter. Jakarta: FE-UI.
UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.



 

Jejaring sosial

Saran

tombol masukan dan saran
Copyright 2010 Yani Rasmadi. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog