Tampilkan postingan dengan label Madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madura. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2011

Rato Madure

Panembahan Notokusumo I

Sore-sore nganggur gak ada kerjaan, mumpung gak ngelesin di sekolah saya buka lagi gambar-gambar foto yang saya download sebelummya di facebooknya kanca madura, diantara puluhan foto tentang madura, ada yang menarik perhatian untuk di simak dan di amati benar atau tidaknya, ya, "madura tempoe dulu" foto itu yang menarik perhatian saya, diantara foto-foto tersebut ada tulisan "tropenmuseum" sebagi sumbernya, iseng-iseng saya buka lagi link tersebut, ternyata itu link dari museum yang ada di Belanda, disana pulalah saya mendapatkan koleksi foto-foto madura tempo dulu, salah satu diantaranya adalah foto Raja Sumenep yaitu Panembahan Somala dengan gelar Panembahan Notokusumo I bersama rombongannya , Panembahan Notokusumo I adalah putra dari Bendoro Saut yang bergelar R.T. Tirtonegoro yang juga Raja sumenep ke-30 . Panembahan Notokusumo I menggatikan pemerintahan ayahandanaya pada tahun 1762 sesuai dengan wasiat dari Ratu Tirtonegoro. Beberapa kejadian penting terjadi pada pemerintahan Panembahan Notokusumo I, diantaranya : Pemisahan kabupaten panarukan dari daerah Sumenep, yang pada awal mulanya panarukan masuk kedalam kekuasaan kerajaan Madura, Kejadian yang lain yang tak akan terlupakan yaitu pembangunan keraton Sumenep dan Masjid Jami' Sumenep pada tahun 1763. Pada tahun 1810, Panembahan Somala diminta datang oleh kompeni ke Semarang untuk ikut serta menjaga daerah pesisir sehubungan dengan timbunya peperangan antara belanda dan Inggris.
Nah, kemungkinan foto diatas diambil pada saat Panembahan Sumolo diundang oleh kompeni ke Semarang.


Art Madura

Ketoprak, Lundruk, Adjhing, teater rakyat di tengah perkembangan zaman

Malam minggu tak sengaja buka radio streaming RRI sumenep pro 1, eh ternyata lagi programnya kesenian ludruk berbahasa Madura, iseng-iseng saya coba dengarkan sejenak, wah, menarik juga ternyata. hayalan saya tentang tingkah laku pemainnya dan rasa keingin tahuan saya tentang apa itu ludruk mulai muncul di pikiran, tanpa buang waktu saya coba browsing, eh ternyata saya lupa kalau di laci meja ada buku tentang "Aneka Ragam Kesenian Sumenep" ternyata ada penjelasan tentang ludruk itu sendiri. Berikut isi dari buku tersebut mengenai ludruk atau adjhing (dalam bahasa Madura):

Ludruk atau ketoprak adalah pertunjukan tater musikal tanpa topeng, terminologi yang digunakan berubah-ubah. lodruk atau ketoprak berasal dari bahasa jawa.

Di jawa istilah ketoprak saat ini mengacu pada suatu jenis pertunjukan teater musikal tanpa topeng, yang menggabungkan narasi dan nyanyian serta diiringi musik gamelan.
ketoprak terdapat di seluruh pulau jawa, tetapi konon berasal dai daerah Jawa Tengah. Menurut suatu hipotesis asal-usulnya adalah "raket" yaitu suatu jenis pertunjukan pendek tanpa topeng yang pada mulanya berdasarkan nyayian dan tarian sewaktu menumbuk padi. Namun kira-kira pada abad ke 14 dijadikan tarian keraton. dan pada abad ke 19 ketoprak muncul sebagai genre pertunjukan teater tersendiri.

Menurut sebagian besar penulis, istilah ketoprak diperkirakan dari tiruan bunyi " prak, prak,prak" tiruan bunyi lesung yang digunakan sebagai pemberi isarat dalam pertunjukan teater dan tari.

Ludruk, teater musikal tanpa topeng, hanya terdapat di daerah jawa timur yang berasal dari Surabaya. ludruk berasal dari badoot dan ludrug, yakni tari duet yang salah satu penarinya berbusana perempuan. dalam istilah moderen badoot adalah pelawak.

Istilah lainnya dari ludruk itu sendiri adalah adhjing, yaitu genre drama madura yang paling awal, yang konon mendahului ludruk di madura. keberadaan adhjing di madura di masing-masing daerah mempunyai arti yang berbeda, menurut penduduk daerah Sumenep adhjing adalah pertunjukan yang bersifat doa pembawa kebaikan atau keagamaan yang diaminkan sekelompok laki-laki dan diiringi musik saronen.

Nah, dengan penjelasan tadi saya baru tahu, kalau ludruk di Madura tidak jauh berbeda dengan ludruk atau ketroprak yang ada di Jawa, hanya istilah nya yang berbeda, namun ada perbedaan mendasar yaitu pada pertujukannya, jika di pulau jawa untuk menghibur, ternyata di Madura untuk prosesi selamatan. ehm,,, betapa kanyanya budaya kita... bravo Madura

Eits, namun ada hal yang perlu saya tanyakan, masihkah anak muda zaman sekarang peduli terhadap kekayan budaya yang kita miliki ini?! tentunya ini kembali pada diri masing-masing.

Rabu, 28 April 2010


Tari Cangkelek Tembus Jawa Timur

SAMPANG - Satu lagi prestasi karya seni tari yang diraih civitas SMAN 2 Sampang. Setelah tenar dengan tarian Bako Mas yang sempat mengharumkan Sampang di 2009 dan sering tampil di even - even penting, SMAN 2 Sampang kini melahirkan tarian baru, Tari Cangkelek.

Tarian ini mendulang prestasi gemilang di Fesival Karya Tari Dan Lagu Pop Daerah Tingkat Jawa Timur. Dalam even yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur tersebut, Sanggar Citra yang berada di bawah naungan SMAN 2 Sampang meraih tiga penghargaan sekaligus. Uakni dinobatkan sebagai Penyaji Unggulan kategori Karya Tari, Kategori Lagu Pop Daerah dan Kategori Yel - Yel Lagu Pop Daerah.

"Bukan hanya itu mas, kami juga dipercaya tampil dalam acara penutup," ujar Bambang Hariyanto, pelatih Sanggar Citra dengan nada bangga.

Ditanya mengenai nama Cangkelek, Bambang mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari nama cawan jamu untuk dihidangkan ke tamu. "Cangkelek itu bahasa Madura yang berarti cawan. Itu yang menginspirasi saya untuk menciptakan tarian ini," tambahnya.

Kepala SMAN 2 Sampang A.G. Atuf mengaku ikut bangga atas prestasi yang diraih anak didiknya. "Yang jelas kami bangga bisa mengangkat nama Sampang di tingkat provinsi. Tapi ada satu kekurangannya. Kami masih belum punya fasilitas lengkap," ungkapnya.

Menurut dia, pelatih tari hanya menggunakan peralatan musik yang bukan milik SMAN 2 Sampang. Sebagian alat musik dipinjam ke Dewan Kesenian (DK) Sampang. Koran ini sempat diajak ke gudang penyimpanan peralatan musik milik SMAN 2 Sampang. "Alat - alat ini semuanya buatan sendiri. Yang penting bunyinya sesuai dengan yang diinginkan. Untuk perangkat gamelan karawitan, kita terpaksa pinjam ke DK," ujar Ipung - sapaan A.G. Atuf.

Dia mengharap dukungan dari semua pihak, terutama pemerintah untuk ikut memperhatikan Sanggar Citra binaannya. "Harapan kami kepada pemerintah hanya satu, yaitu dukungannya terkait peralatan musik yang kami perlukan. Itu agar prestasi ini dapat kita tingkatkan. Kita tidak akan bisa maju kalau pemerintah tidak mendukung," ujarnya. (fei/lah/ed)Radar Madura


Cerita Madura

Menurut Cerita Purbakala (antara tahun 78) datanglah Adji Saka dari negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaaan hindu ke pulau Jawa dan Madura. Pada saat itu pula dimulailah perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf :

hanacaraka,
data sawala,
padadjajanja,
magabatanga,


yang artinya :

dua orang pengikut Adji Saka
tersentuh dalam perkelahian,
sama-sama menunjukkan kekuatan,
mereka hancur lebur menjadi bangkai.


Dengan demikian setahap demi setahap kebudayaaan hindu mulai tersebar dan menurut cerita, Orang Jawa dan Madura mulai diperkenalakan dengan ajaran baru dengan adanya kepercayaan terhadap :
-Brahma
-Siwa
-Wisnu


Beberapa abad kemudian, diceritakan bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dengan Rajanya yang bernama Sanghyangtunggal. Saat itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, yang nampak hanya gunung Geger di kabupaten bangkalan dan Gunung Pajudan di kabupaten Sumenep. Di ceritakan bahwa Raja Sanghyangtunggal mempunyai anak yang bernama Bindoro Gung. Pada suatu waktu anak itu hamil dan diketahui oleh ayahnya. beberapa kali ayahnya menanyakan namun anaknya tidak tahu yang menyebabkan dia hamil. Pada Saat itu Raja sangat marah dan dipanggillah patihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya.

Selama pepatih itu tidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh, ia tidak boleh kembali ke kerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan ia membawa anak raja itu ke hutan. Sesampainya dihutan Pranngulang mulai menghunus pedangnya dan mengayunkannya keleher gadis itu. Tetapi sebelum pedang tersebut sampai kelehernya pedang itu jatuh ketanah, dan kejadian itu terjadi berulang kali, sampai akhirnya dia yakin bahwa hamilnya Bendoro Gung bukan karena hasil perbuatannya sendiri.

Oleh karena itu ia tidak melanjutkan perbuatannya itu, tetapi ia memiilih untuk tidak kembali kekerajaan. Pada saat itu pula ia mengganti namanya dengan sebutan Kiyai Poleng. Ia lalu membuat serangkaian kayu dan menghanyutkan gadis itu ke Pulau "Maduoro". inilah asal nama pulau madura. Sebelum berangkat kiyai Poleng berpesan kepada Bendoro Gung, jika ada keperluan apa-apa, supaya ia memukulkan kakinya diatas tanah dan pada saat itu kiyai Poleng akan datang untuk membantunya. Selanjutnya rakit itu berlayar menuju Maduoro dan terdampar di Gunung Geger.

Lahirnya Raden Sagoro

Pada Suatu Saat si gadis hamil itu merasa perutnya sakit dan dengan segera ia memanggil kiyai Poleng. Tidak lama kemudian Kiyai Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan. Tak lama lahirlah seorang anak laki-laki yang roman mukanya tampan dan diberi nama " Raden Sagoro " (sagoro=laut). Dengan demikian ibu dan anaknya yang bernama raden sagoro menjadi penduduk pertama di Pulau Madura.

perahu-perahu yang berlayar di sekitar pulau madura sering melihat adanya cahaya yang terang di tempat Raden sagoro tinggal, dan seringkali perahu-perahu tersebut berlabuh dan mengadakan selamatan di tempat itu. Dengan demikian tempat itu semakin lama semakin ramai karena sering kedatangan tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk kepentingan pribadinya. Selain itu para pengunjung memberikan hadiah-hadiah kepada Ibu dari Raden Sagoro maupun kepada Raden Sagoro itu sendiri.

Setelah Raden Sagoro mencapai umur 3 tahun ia sering bermain api ditepi lautan dan pada suatu hari datanglah dua ekor ular naga yang sangat besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari dan menjumpai ibunya dan mennceritakan semua yang dia alami. Ibunya merasa ketakuatan dan saat itu pula ia memanggil Kiyai Poleng dan pada saat itu pula ia menceritakannya. Kiyai Poleng lalu mengajak Raden Sagoro pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah dua ekor ular raksaasa dan Kiyai Poleng menyuruh Raden Sagoro supaya kedua ekor ular itu didekati dan ditanggakap lalu dibanting ke tanah. setelah melaksanakan perintah itu kedua ekor ular berubah menjadi dua buah tombak. Tombak itu kemudian diberi nama Nenggolo dan Aluquro. Kiyai poleng berpesan bahwa tombak bernama Aluquro disimpan di rumah dan tombak Nenggolo dibawah ketika berperang.
Diceritakan selanjutnya, menurut kepercayaan orang, dua buah tomabk tadi pada akhirnya sampai ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. karena itu sampai saat ini kedua tombak tersebut menjadi Pusaka Bangkalan.


About Pulau Madura

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa.
Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura banyak tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara ,serta sebagian Malang .
Disamping suku Jawa dan Sunda, orang Madura juga banyak yang bertransmigrasi ke wilayah lain terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta ke Jakarta,Tanggerang,Depok,Bogor,Bekasi,dan sekitarnya, juga Negara Timur Tengah khususnya Saudi Arabia. Beberapa kota di Kalimantan seperti Sampit dan Sambas, pernah terjadi kerusuhan etnis yang melibatkan orang Madura. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh,serta beberapa ada yang berhasil menjadi,Tekonokrat,Biokrat,Mentri atau Pangkat tinggi di dunia militer.
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).
Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura.

Daftar isi

Administrasi

Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu:
  1. Kabupaten Bangkalan
  2. Kabupaten Sampang
  3. Kabupaten Pamekasan
  4. Kabupaten Sumenep
Pulau ini termasuk provinsi Jawa Timur dan memiliki nomor kendaraan bermotor sendiri, yaitu " M ".

Sejarah

Litografi oleh Auguste van Pers yang menggambarkan seorang pangeran dari Madura dan pelayannya di masa Hindia Belanda
Secara politis, Madura selama berabad-abad telah menjadi subordinat daerah kekuasaan yang berpusat di Jawa. Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Di antara tahun 1500 dan 1624, para penguasa Madura pada batas tertentu bergantung pada kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik, dan Surabaya. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada paruh pertama abad kedelapan belas Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.[1]

Ekonomi

Secara keseluruhan, Madura termasuk salah satu daerah miskin di provinsi Jawa Timur[2]. Tidak seperti Pulau Jawa, tanah di Madura kurang cukup subur untuk dijadikan tempat pertanian. Kesempatan ekonomi lain yang terbatas telah mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan. Faktor-faktor ini telah mengakibatkan emigrasi jangka panjang dari Madura sehingga saat ini banyak masyarakat suku Madura tidak tinggal di Madura. Penduduk Madura termasuk peserta program transmigrasi terbanyak.
Pertanian subsisten (skala kecil untuk bertahan hidup) merupakan kegiatan ekonomi utama. Jagung dan singkong merupakan tanaman budi daya utama dalam pertanian subsisten di Madura, tersebar di banyak lahan kecil. Ternak sapi juga merupakan bagian penting ekonomi pertanian di pulau ini dan memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga petani selain penting untuk kegiatan karapan sapi. Perikanan skala kecil juga penting dalam ekonomi subsisten di sana.
Tanaman budi daya yang paling komersial di Madura ialah tembakau. Tanah di pulau ini membantu menjadikan Madura sebagai produsen penting tembakau dan cengkeh bagi industri kretek domestik. Sejak zaman kolonial Belanda, Madura juga telah menjadi penghasil dan pengekspor utama garam.
Bangkalan yang terletak di ujung barat Madura telah mengalami industrialisasi sejak tahun 1980-an. Daerah ini mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dan dengan demikian berperan menjadi daerah suburban bagi para penglaju ke Surabaya, dan sebagai lokasi industri dan layanan yang diperlukan dekat dengan Surabaya. Jembatan Suramadu yang sudah beroperasi sejak 10 Juni 2009, diharapkan meningkatkan interaksi daerah Bangkalan dengan ekonomi regional.

Budaya & Seniman Madura

Madura terkenal dengan budaya Karapan sapinya.
  • Budayawan Madura  :- Prof Dr.Abdul Hadi,WM - Kadarisman Sastrodiwiryo ,- D. Zawawi Imron ( Celurit Emas )
  • Seniman Madura mendapat gelar Terompet maut: Sahid Kelana ( Ayah handa Band The Big Kid,Imaniar bersaudara )
  • Pembuat Kamus Bahasa Madura ke Bahasa Indonesia dan Bahasa Indonesia ke Bahasa Madura : Adrian Pawitra
  • Dr. A. Latief Wiyata (CERIC Univ. Jember - Antropolog Budaya Madura)
  • Agus Hadi Sudjiwo / lebih dikenal Sudiwo Tejo,(lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962)
  • Keturunan Madura berdasarkan pengakuan pribadinya, didaerah ini banyak orang maduranya

[sunting] Daftar tokoh Madura

  • KH.Syaikhona Kholil :arsitek utama berdirinya NU seorang ulama Madura, almarhum Syaikhona Kholil Bangkalan. Syaikhona Kholil * merupakan guru para ulama NU angkatan pertama sejak Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sampai kyai As’ad Syamsul Arifin.

  • Sakera :adalah seorang jagoan daerah, yang melawan perintah diktator Belanda di perkebunan tebu di daerah Bangil, Yg akhirnya * diHukum mati oleh Kolonial belanda.

Tokoh Madura Penjabat Tinggi Negara Republik Indonesia  
* 1.Ketua Mahkamah Konstitusi            : Prof.Dr.Mahmud,MD
* 2.Ketua Badan Pemeriksa Keuangan       : Hadi Purnomo
* 3.Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan : Dr. Ir. Herman Widyananda, SE., M.Si.
Tokoh Madura Mentri Kabibinet Republik Indonesia
*1.Mentri Dalam Negeri dan Gubernur DKI Jakarta : Soemarno Sosroatmodjo untuk periode tahun 1960 - 1964 dan 1965 - 1966
*2.Mentri Perdagangan                           : Rachmat Saleh
*3.Mentri Pendidikan dan Kebudayaan             : Prof.DR.Ing. Wardiman Joyonegoro
*4.Mentri Dalam Negeri                          : Jendral R.Hartono 
*5.Mentri Kehutanan                             : Djamaludin Suryohadikusumo
*6.Mentri Pertahanan dan Keamanan               : Prof.DR.Mahfud ,MD
*7.Mentri Kehutanan                             : DR.Nur Mahmudi ( Ketua PKS )
Tokoh Madura Setingkat Mentri

*1.Gubernur Bank Indonesia : Rahmat Saleh
*2.Ketua BPS RI            : Majid
*3.Jaksa Agung RI          : Soedjono Chanafiah Atmonegoro, SH
Tokoh Madura Menjadi Gubernur
1.Gubernur Jawa Timur   : Raden Panji Moch.Noer
2.Gubernur DKI Jakarta  : Soemarno Sosroatmodjo
Tokoh Madura di Militer
  • Kepala Staf Angkatan Darat ( KSAD ) .Jendral TNI R.HARTONO
  • Kepala Staf Angkatan Laut ( KSAL ) .Laksamana.Muhammad Arifin
  • Kepala Staf Angkatan Udara ( KSAU ) .Marsekal Hanafie Asnan(Bangkalan,17november 1945):http://id.wikipedia.org/wiki/Hanafie_Asnan
  • Kepala Staf Polisi ( KAPOLRI ) .Jendral Polisi Banurusman, Jendral polisi Roesman Hadi
Toko Madura di Dunia Pendidikan Dan Peneliti Akedemisi
  • Rektor Universitas Gajah Mada  : Prof DR.Ischasul Amal
  • Rektor Universitas Negeri Airlangga  : Prof DR HR Soedarso Djojonegoro AIF Bin Abdul Mutallib(ayahnya Madura),link:
  • http://www.pdat.co.id/ads/html/S/ads,20030626-35,S.html
  • Rektor Universitas Tronojoyo Negeri Madura  : Prof DR Ir.M.Iksan Semaoen,Msc
  • Rektor dan Pendiri universitas PARAMADINA  : Prof Dr Nurcholish Madjid atau biasa disebut Cak Nur ( Ayahnya Bangkalan Madura)
  • Guru Besar di Institute Teknologi Surabaya  : Prof DR Ir HM Rachimoellah Dip EST
  • Bapak Ahli Jamur Indonesia(Peneliti utama )  : Prof DR Mien Ahmad Rifai (Penemu Lebih dari 100 Jenis Tumbuhan Baru)
  • Guru Besar & Direktur Paska Sarjana di Cornell University : Prof.Iwan Jaya Azis SE, M.SC, Ph.D( Azis ayahnya Madura, Pemilik * Surabaya Post)
  • Guru Besar Fisika Univesitas Gajah Mada  : Prof DR Syairul Alim
  • Guru Besar Ilmu Politik Universitas Gajah Mada: Prof. Dr. Riswandha Imaw(Bangkalan):http://id.wikipedia.org/wiki/Riswandha_Imawan
  • pengamat ekonomi dan politikus PAN  : Prof.DR Didik Junaidi Rachbini
Pahlawan dari Madura

Aktifis Sosial LSM
  • Roostien Ilyas

Lain-lain

  • Kiai Pragalbo ...-1531. Ayah dari:
  • Kiai Pratanu Panembahan Lemah Duwur 1531-1592. Ayah dari:
  • Pangeran Tengah 1592-1621. Saudara dari:
  • Pangeran Mas 1621-1624
  • Pangeran Praseno Pangéran Tjokro di Ningrat I 1624-1647. Anak dari Tengah and Ayah dari:
  • Pangeran Tjokro di Ningrat II 1647-1707, Panembahan 1705. Ayah dari:
  • Raden Temenggong Sosro di Ningrat Pangeran Tjokro di Ningrat III 1707-1718. Saudara dari:
  • Raden Temenggong Suro di Ningrat Pangeran Tjokro di Ningrat IV 1718-1736. Ayah dari:
  • Raden Adipati Sejo Adi Ningrat I Panembahan Tjokro di Ningrat V 1736-1769. Kakek dari:
  • Raden Adipati Sejo Adi Ningrat II Panembahan Adipati Tjokro di Ningrat VI 1769-1779
  • Panembahan Adipati Tjokro di Ningrat VII 1779-1815, Sultan Bangkalan 1808-1815. Anak dari Tjokro di Ningrat V dan Ayah dari:
  • Tjokro di Ningrat VIII, Sultan Bangkalan 1815-1847. Saudara dari:
  • Panembahan Tjokro di Ningrat IX, Sultan Bangkalan 1847-1862. Ayah dari:
  • Panembahan Tjokro di Ningrat X, Sultan Bangkalan 1862-1882.
(sumber: A.M.H.J. Stokvis, Manuel d’histoire, de généalogie et de chronologie de tous les Etats du globe..., Boekhandel & Antiquariaat B.M. Israël, Leiden 1888-1893, 1966)

Referensi

  1. ^ Van Dijk, K., de Jonge, H. & Touwen-Bouwsma, E., Introduction, di dalam: van Dijk et al. (penyunting), Across Madura Strait: the dynamics of an insular society, Leiden: KITLV Press, 1995, hlm. 1-6.
  2. ^ Rachbini, D.J., Conditions and consequences of industrialization in Madura, di dalam: van Dijk et al. (penyunting), Across Madura Strait: the dynamics of an insular society, Leiden: KITLV Press, 1995, hlm. 209-220.

Lihat pula

Pranala luar




 

Jejaring sosial

Saran

tombol masukan dan saran
Copyright 2010 Yani Rasmadi. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog